Halaman Facebook Twitter Warta Lumajang Langganan Berita
Terkait Koperasi Wirabhakti, Paiman Masih Klarifikasi Dengan Kejaksaan
Rabu, 01 Oktober 2014 17:26 WIB
Wartalumajang.com – Terkait dengan pemeriksaan Kejaksaan Negeri Lumajang terhadap sejumlah mantan pengurus Koperasi Wirabhakti Lumajang periode 2006-2009, Ir. Paiman selaku mantan ketua dikoperasi tersebut kepada sejumlah wartawan menyampaikan dirinya hingga hari ini, Rabu (01/10), tengah melakuka...
Ambulance Desa Terlibat Pencurian, Ketua DPRD Minta Ambulance Desa Dievaluasi
Selasa, 30 September 2014, 19:10 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com – Program pengadaan Ambulance desa yang dianggap Bupati Lumajang sebagai salah satu satu program yan [ ... ]

Modus Baru, Ambulance Desa Digunakan Mengangkut Sapi Curian
Selasa, 30 September 2014, 17:23 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com – Dalam waktu 2 hari setelah mendapat laporan adanya kehilangan hewan ternak sapi diwilayah Kecamata [ ... ]

4 Pimpinan DPRD Lumajang Dilantik
Selasa, 30 September 2014, 17:05 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com – Setelah pembentukan fraksi-fraksi dan komisi selesai dilaksanakan beberapa waktu lalu yang dilanju [ ... ]

Dr. Buntaran : Saya Tidak Boleh Menyampaikan Detil Sakitnya Bupati Lumajang
Selasa, 30 September 2014, 15:11 WIB
article thumbnail

Wartalumajang.com – Sekab Lumajang Dr. Buntaran S. mengaku tidak diperkenankan menjelaskan kepada Publik soal sakitnya [ ... ]

Kamis, 28 Agustus 2014 14:49
Saling Klaim B29, Lumajang-Probolinggo Sepakat Putuskan Batas Wilayah Melalui GPS
Wartalumajang.com – Saling Klaim antara Probolinggo dan Lumajang atas destinaty wisata Puncak B29, yang sering pula disebut sebagai negeri diatas awan, akhirnya ditengahi oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sejumlah pejabat pe...

Aspirasi

Selasa, 02 September 2014 12:25
Ambisi Kelola B29, Jangan-Jangan Nafsu Kuat Tapi Stamina Kendor
Wartalumajang.com – Perebutan B29 untuk dijadikan aset wisata bagi Lumajang terus makin kuat. Pemkab Lumajang dan Pemkab Probolinggo sampai mendatan...

Birokrasi

Terkait Koperasi Wirabhakti, Paiman Masih Klarifikasi Dengan Kejaksaan

Rabu, 01 Oktober 2014
Terkait Koperasi Wirabhakti, Paiman Masih Klarifikasi Dengan Kejaksaan <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:336px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Ketua DPRD Lumajang H. Agus Wicaksono</span></span>Wartalumajang.com</strong> – Program pengadaan Ambulance desa yang dianggap Bupati Lumajang sebagai salah satu satu program yang spektakuler akhirnya tercoreng. Dalam pekan ini satu unit ambulance desa diduga kuat terlibat aksi pencurian sapi diwilayah Tempeh. Menanggapi kejadian ini, Ketua DPRD Lumajang Agus Wicaksono mengaku telah mengingatkan pemerintah, karena banyak ambulance desa yang kemudian beralih fungsi.</p> <p>“Saya sudah mengingatkan kepada pemerintah daerah. Pengadaan Ambulance desa itu baik untuk desa terpencil. Namun progra ini harus segera dievaluasi jika sudah beralih fungsi. Apalagi digunakan untuk mencuri sapi, jadi pemerintah tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk melanjutkan program ambulance desa ini,” kata Agus Wicaksono.</p> <p>Agus juga mengatakan, untuk wilayah utara yang lebih penting adalah pengadakan truk tangki air yang sangat vital penggunannya jika ada warga yang punya hajat keluarganya yang meninggal dan lain-lain. Agus mengajak pemerintah untuk membuat program yang cerdas dan bermanfaat untuk masyarakat luas.</p> <p>“Dulu pernah kita tidak setuju dengan pengadaan ambulance itu. Karena memang sudah banyak beralih fungsi. Ada yang digunakan untuk rekreasi, kulakan dan keperluan lainnya. Sementara itu sejumlah masyarakat lainnya di Lumajang mengaku cukup sering melihat ambulance desa wira-wiri didalam kota untuk keperluan pribadi.</p> <p>“Saya sering lihat kok mas, ambulance desa itu isinya keluarga yang bertujuan untuk rekreasi dan jalan-jalan didalam kota. Bahkan saya pernah melihat ambulance desa parkir disejumlah pertokoan besar di luar Lumajang,” kata salah seorang warga.</p> <p>Sementara Bupati Lumajang pada masa kampanye lalu menyebut pengadaan ambulance desa sebagai salah satu program spektakuler dalam masa pemerintahannya.</p> "> Ambulance Desa Terlibat Pencurian, Ketua DPR...
  • "> 4 Pimpinan DPRD Lumajang Dilantik...
  • "> Dr. Buntaran : Saya Tidak Boleh Menyampaikan...
  • "> Kapolres Deklarasikan Door To Door Policing...

    Hukum

    Rp. 2.5 M Dana Koperasi Wirabhakti Lumajang Belum Bisa Dipertanggungjawabkan

    Minggu, 28 September 2014
    Rp. 2.5 M Dana Koperasi Wirabhakti Lumajang Belum Bisa Dipertanggungjawabkan <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:383px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Mahmud SH (baju biru) kuasa hukum pelapor bersama Soeyono (baju putih) pelapor</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Jamal Alkatiri (50), mantan anggota DPRD Jatim asal Lumajang diduga telah melakukan penipuan terhadap Soeyono (63) warga Perum Sukodono Permai, pasalnya setelah melakukan perjanjian tertulis kerjasama penambangan pasir galian C sejak awal hingga berakhirnya perjanjian tersebut Soeyono tidak pernah bisa menambang dilokasi yang tertera dalam perjanjian.</p> <p>Adapun lokasi yang menjadi tepat penambangan pasir adalah di sungai Leprak Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro, dengan luas lahan sekitar 18 hektar dan berkode Wilayah Ijin Usaha Pertambangan (WIUP) 32 3508 440 2013 002.</p> <p>Sesuai dengan surat perjanjian kerjasama pengolahan pertambangan pasir yang ditandatangani kedua belah pihak pada tanggal 14 Mei 2014 dan berakhir pada 1 Juni 2014, maka Soeyono berusaha segera melakukan penambangan diwilayah tersebut dengan mendatangkan alat berat.</p> <p>Namun sayangnya ketika Soeyono akan melakukan penambangan dilokasi tersebut, dia mendapat penolakan dari masyarakat, sehingga sampai saat ini Soeyono belum melakukan kegiatan apapun. “Masyarakat disana menolak penambang yang akan menambang menggunakan nama Jamal Alkatiri,” kata Mahmud SH, kuasa hukum Soeyono.</p> <p>Menurut Mahmud, atas kejadian ini kliennya merasa dirugikan ratusan juta rupiah, karena saat menandatangani perjanjian Soeyono sudah mengeluarkan uang lebih dari Rp 100 juta. “Jika ditambah dengan pengadaan peralatan seperti begho, ya diperkirakan sudah habis Rp 160 juta,” ujarnya.</p> <p>Proses hukum ini adalah upaya terakhir yang sudah dilakukan Mahmud dalam mendampingi kliennya, karena sebelumnya sudah dilakukan upaya mediasi, namun karena kedua belah pihak saling ngotot mengaku paling benar maka dilanjutkan dengan upaya hukum. “Saya sudah mengarahkan melalui jalur kekeluargaan, namun karena keduanya merasa paling benar, maka ya upaya hukum ini yang kami lakukan,” ungkap Mahmud.</p> <p>Ketika di Mapolres, baik Mahmud maupun kliennya masih melakukan konsultasi dengan pihak Polres Lumajang, namun saat dihubungi media ini melalui Ponselnya Mahmud mengaku proses ini masih terus berjalan dan kliennya tengah dikonfirmasi oleh petugas SPK Polres Lumajang terkait dengan laporannya. “Klien saya sekarang masih di ruang SPK mas, masih dikonfirmasi petugas,” pungkasnya.</p> "> Mantan Anggota DPRD Jatim Dilaporkan ke Poli...
  • "> Bugh, Masih Kelas 2 SMP Nekat Curi Motor...
  • "> 3 Kali Mangkir Dari Panggilan Polisi, Bos PT...
  • "> Pasca Lebaran Sejumlah Kasus Korupsi Akan ...

    Politik

    Agus Wicaksono : “Manfaatkan Setiap Tugas Keluar Kota Untuk Membeli Buku”

    Selasa, 02 September 2014
    Agus Wicaksono : “Manfaatkan Setiap Tugas Keluar Kota Untuk Membeli Buku” <p><strong> </strong></p> <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:345px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Sjahrazad Masdar, Ketua DPC Partai Demokrat Lumajang</span></span>Wartalumajang.com</strong> – Absennya Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar Dalam aktivitas pemerintahan dan politik karena masih sakit ternyata berimbas juga Partai Demokrat. Bupati yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Lumajang telah menugaskan salah satu wakil ketua DPC, dalam hal ini Drs. Samsul Huda untuk menjalankan roda partai sampai bupati benar-benar sembuh.</p> <p>Kabar tentang penugasan untuk mengendalikan organisasi ini juga dibenarkan oleh Samsul Huda selaku penerima tugas tersebut. Ketika ditemui media ini sehari sebelum pelantikan DPRD, Samsul mengaku jika dirinya memang diminta untuk mengendalikan organisasi Partai Demokrat. “Sifatnya hanya tugas untuk mengendalikan organisasi, karena memang ada beberapa moment dimana Partai Demokrat harus hadir. Jadi tugas untuk mengendalikan organisasi saja,” kata Samsul Huda.</p> <p>Samsul menyangkal kalau dirinya ditunjuk sebegai pelaksana tugas (Plt). Namun demikian, Samsul mengaku bahwa dirinya mendapat mandat untuk mengendalikan organisasi tersebut dalam bentuk surat tugas dari Ketua DPC Partai Demokrat Lumajang, Sjahrazad Masdar kepada dirinya selaku Wakil Ketua II. “Hanya surat tugas saja dari ketua kepada wakil ketua II untuk mengendalikan organsisasi,” kata Samsul.</p> <p>Sementara disisi lain berhembus kabar bahwa pemberian surat tugas tidak melalui forum resmi dalam pleno pengurus DPC Demokrat Lumajang. Seharusnya pemberian surat tugas seperti itu harus diputuskan dalam rapat pleno DPC Partai Demokrat Lumajang.</p> <p>Sementara Sekretaris DPC Partai Demokrat Lumajang, Moch. Sofi ketika dikonfirmasi secara terpisah mengaku tidak tahu soal surat tugas tersebut. “Saya ndak tahu mas, malah saya baru dengar dari saudara sekarang ini,” kata Sofi yang kami temui setelah acara pelantikan DPRD Lumajang, Kamis (21/8).</p> "> Sakitnya Bupati Berimbas Pada Partai Demokra...
  • "> KPU Lumajang Kembali Membongkar 1.762 Kotak ...
  • "> Penuhi Ketetapan MK, KPU Lumajang Bongkar Ra...
  • "> Herman Affandi : Kita Minta Relawan Prabowo ...

    Aneka Rupa

    H. Bukasan Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PBSI Lumajang

    Minggu, 14 September 2014
    H. Bukasan Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua PBSI Lumajang <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:300px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Foto Ilustrasi</span></span>Wartalumajang.com</strong> – Walau sudah lama dilarang pemerintah, namun sampai saat ini bunyi petasan tak terhindarkan dari rutinitas Idul Fitri. Sejak selesai Sholat Ied dan selama lebaran, suara petasan bersautan, khususnya dipedesaan. Karena penjual petasan sudah mulai sepi dipasaran, warga menyiasatinya dengan membuat sendiri dengan cara membeli bubuk “mercon” tersebut yang masih dijual dipasaran.</p> <p>Menurut sejumlah warga yang kami temui, bubuk petasan tersebut dibeli ditempat biasanya. Sedangkan bahasan petasan dari kertas disiasati dengan membeli Koran bekas yang banyak dijual dipasaran. Disamping jatuh harganya lebih murah, dengan membuat sendiri bisa membuat sesuai dengan kehendak sendiri.</p> <p>“Kalau membuat sendiri kita bisa membuat sesuai dengan kehendak sendiri pak, disamping itu harganya jadi lebih murah. Apalagi sekarang yang jualan sudah tidak ada pak,” kata salah seorang warga.</p> <p>Warga tidak menyebutkan dari mana mendapatkan bubuk mercon tersebut, namun yang pasti bubuk masih bisa dibeli dengan bebas sampai sekarang. Menyinggung tentang kebiasaan membunyikan petasan saat lebaran, warga menyebutnya sebagai tradisi yang sulit untuk dihindari.</p> <p>“Setahun sekali pak, memang sudah bisa seperti itu. Jadi rasanya nggak enak kalau nggak ada petasan,” katanya kemudian.</p> <p>Kendati demikian secara umum kepemilikan petasan sudah jauh menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Warga, termasuk dipedesaan sudah lebih banyak yang memilih membeli kembang api untuk merayakan idul fitri.</p> "> Petasan Belum Bisa Dipisahkan Dari Tradisi I...
  • "> Jelang Lebaran, Tiket Pendakian Semeru Laris...
  • "> MPPM Timur Peringati Pekan Bung Karno Dengan...
  • "> Atlit Catur Junior Lumajang Raih Peringkat D...

    Peristiwa

    Modus Baru, Ambulance Desa Digunakan Mengangkut Sapi Curian

    Selasa, 30 September 2014
    Modus Baru, Ambulance Desa Digunakan Mengangkut Sapi Curian <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:433px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Kapolres Lumajang, AKBP Singgamata</span></span>Wartalumajang.com</strong> – Akhir-akhir ini diwilayah Lumajang banyak tersebar kabar adanya aksi penculikan terhadap anak kecil, selain melakukan penculikan para pelaku juga memutilasi korbannya dengan mengambil sejumlah organ tubuh vital, hal ini membuat para ibu rumah tangga khususnya yang memiliki anak kecil merasa was-was.</p> <p>Kabar penculikan ini tersebar dimasyarakat melalui ponsel baik itu berbentuk SMS maupun melalui BBM, bahkan kabar terakhir yang diterima media ini menyebutkan ada seorang siswa SD di Kecamatan Tempeh telah menjadi korban penculikan, namun ketika kabar tersebut ditelusuri ternyata tidak ada kejadian apapun.</p> <p>Menanggapi kondisi tersebut Kapolres Lumajang, AKBP Singgamata kepada sejumlah wartawan mengatakan jika kabar tersebut hanya bohong atau isu belaka. “Kejadian itu tidak ada di Lumajang, yang ada adalah pembuangan bayi tapi kalau penculikan tidak ada,” katanya.</p> <p>Kejadian ini hanya isu yang motifnya belum diketahui, namun Kapolres meminta kepada masyarakat agar kabar tersebut diambil sisi positifnya karena dengan adanya isu tersebut otomatis para ibu akan makin meningkatkan kewaspadaan terhadap putra-putrinya.</p> <p>“Mari kita ambil sisi positifnya saja, dengan kejadian itu mari masyarakat tingkatkan kewaspadaan didaerah masing-masing, tidak hanya terkait dengan isu penculikan anak atau bayi ini saja tetapi terhadap berbagai macam gangguan keamanan. Mari tingkatkan Siskamling,” ungkap Singgamata.</p> <p>Bukan hanya masyarakat saja yang menerima SMS tersebut, Kapolres juga mengaku mendapat SMS dari orang yang tidak dikenal yang bunyinya adanya seorang anak yang diculik dan dimutilasi. “Tolong sampaikan kepada masyarakat tidak ada penculikan bayi atau anak di Lumajang,” ujar Singgamata.</p> <p>Dengan munculnya kabar tersebut Kapolres sudah memerintahkan jajarannya untuk melakukan penyelidikan siapa orang yang telah membuat isu tersebut, karena meskipun ada sisi positifnya namun kabar tersebut cukup membuat masyarakat resah. “Kami tengah mengupayakan menyelidikinya, namun hal tersebut butuh waktu karena menelusuri siapa orang pertama yang mengirimkan SMS tersebut tidaklah mudah,” pungkasnya.</p> "> Kapolres Tegaskan Tidak Ada Penculikan Anak ...
  • "> Pertama Kali Pejabat Pemkab Naik Gunung Saat...
  • "> 16 PSK Dari Selatan Lumajang Terjaring Razia...
  • "> Polisi Tangkap Gembong Penadah Motor Curian ...

    Wisata Budaya

    Sejarawan Asal Belanda Harry Poeze, Kunjungi Situs Biting

    Rabu, 12 Pebruari 2014
    Sejarawan Asal Belanda Harry Poeze, Kunjungi Situs Biting <p><strong><span class="easy_img_caption" style="display:inline-block;line-height:0.5;vertical-align:top;background-color:#none;text-align:left;width:216px;float:left;margin:8px;8px;"><span class="easy_img_caption_inner" style="display:inline-block;line-height:normal;color:#000000;font-size:8pt;font-weight:normal;font-style:italic;padding:3px 5px;margin:0px;">Salah satu temuan di Desa Kedungmoro Kec. Kunir</span></span>Wartalumajang.com</strong> - Aliansi Masyarakat Pelestari Sejarah (AMPAS) Lumajang menilai Lumajang memiliki peninggalan sejarah yang sangat besar dan beragam. Namun sejumlah peninggalan sejarah tersebut hingga saat ini belum dikembangkan secara serius oleh Pemkab Lumajang, bahkan terkesan diabaikan sehingga merugikan kepentingan masyarakat yang wajib tahu tentang sejarah dan masa lalu Lumajang.</p> <p>Hal ini disampaikan Koordinator AMPAS Lumajang Lutfia Amerta, hari ini, kamis (30/1). Dalam kesempatan yang sama Lutfi menyatakan keinginannya agar situs-situs peninggalan sejarah diselamatkan seperti yang sudah dilakukan terhadap situs Biting Kutorenon Lumajang. Beberapa situs lainnya yang diharapkan bisa diselamatkan adalah penemuan Candi Betari Durga didesa Kedungmoro Kecamatan Kunir Lumajang.</p> <p>Terhadap peninggalan ini, AMPAS berharap agar dilakukan ekskavasi sehingga menjadi informasi penting yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Dalam kesempatan yang sama Lutfi yang juga Sekretaris MPPM Timur berharap agar Pemkab secara serius melakukan penyelamatan tempat-tempat bersejarah di Lumajang yang diantaranya bisa dilakukan dengan cara mengalihkan pembangunan Perumnas Biting kewilayah diluar kawasan situs.</p> <p>Tuntutan lainnya antara lain, mendorong situs Biting menjadi Kawasan cagar budaya nasional sebagai kebanggaan masyarakat Lumajang dan kebanggaan masyarakat Tapal Kuda (bekas ibukota kerajaan Lumajang Tigang Juru). AMPAS juga berharap agar pemkab Lumajang mememuhi janjinya dan memberi fasilitas untuk melakukan penelitian dan ekskavasi Candi Betari Durga Di Desa Kedungmoro Kecamatan Kunir.</p> <p>Lufti juga menyatakan harapannya agar pemerintah memberikan kompensasi kepada masyarakat pemilik tanah dan penemu situs sehingga ada kejelasan nasib mereka sesuai dengan UU Cagar Budaya.</p> <p>Sebelumnya Ketua Bappekab Lumajang Ir. Indah Amperawati menyatakan bahwa Pemkab sudah merencanakan untuk membangun sebuah museum peninggalan sejarah Lumajang yang akan ditempatkan di kompleks KWT Lumajang.</p> "> AMPAS Tuding Pemkab Abaikan Peninggalan Seja...
  • "> MPPM Timur Gelar Malam Padang Rembulan dan K...
  • "> Rumah Budaya Nusantara Pentaskan Sendra Tari...
  • "> Pemkab Lumajang Lamban, Situs Biting Akhirny...

    Mansur Hidayat, Ketua MPPM TimurMansur Hidayat, Ketua MPPM TimurWartalumajang.com - Situs Biting terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Situs ini adalah suatu kawasan bekas ibu kota kerajaan Nusantara yang dikelilingi oleh 3 sungai besar (Bondoyudo di utara, Ploso di barat, Bodang di timur) dan 1 sungai buatan Cangkring di selatan. Di sisi dalam sungai-sungai tersebut dapat diketemukan benteng yang melingkari dengan ketebalan bervariasi antara 3-6 meter, tinggi antara 6-10 meter dan panjang melingkarinya antara 8-10 kilo meter. Dengan ketebalan dan panjangnya dapat dikatakan bahwa situs ini merupakan situs terbesar dan terpanjang di Indonesia. Dari sisi arsitektur, situs ini merupakan contoh benteng lokal Nusantara.

    Situs Biting ini diketemukan pertama kali oleh J Mageman pada tahun 1861 dan kemudian di teliti ulang oleh A. Muhlenfeld pada tahun 1920. Menurut penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang dimulai tahun 1982-1991, kawasan Situs Biting memiliki luas 135 hektar yang mencakup 6 blok/area yaitu blok keraton seluas 76,5 ha, blok Jeding (Taman Sari) 5 ha, blok Biting 10,5 ha, blok Randu 14,2 ha, blok Salak 16 ha, dan blok Duren 12,8 ha. Di blok-blok tersebut, kita dapat diketemukan kawasan pemukiman, kawasan pemandian atau Taman sari dan kawasan peribadatan. Begitu kayanya akan benda-benda bersejarah, di kawasan ini banyak ditemukan bersebaran artefak-artefak seperti keramik cina dari aabd ke-12 sampai 16, gerabah kuno maupun batu bata kuno.

    Menurut catatan sejarah, Lamajang merupakan suatu wilayah yang cukup penting sejak jaman kerajaan Kediri pada abad ke 12 dan kerajaan Singosari pada abad ke-13. Setelah Singosari runtuh dan awal berdirinya kerajaan Majapahit, dalam beberapa catatan kuno seperti Prasasti Kudadu yang kemudian diperkuat oleh Babad Negara Kertagama, Babad Pararaton, Kidung Harsawijaya, Kidung Ranggalawe, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Sorandaka, diberitakan bahwa Adipati Sumenep Arya Wiraraja dan Raden Wijaya mengadakan perjanjian kerja sama untuk membagi pulau Jawa menjadi 2 wilayah yang sama besar. Setelah kemenangan besar atas Prabu Jayakatwang di Kediri dan pengusiran tentara Tar Tar pada tahun 1292 Masehi, maka setahun kemudian pada 10 Nopember 1293 Masehi berdirilah 2 kerajaan besar yaitu Majapahit di sebelah barat dengan raja Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardana dan Lamajang Tigang Juru dengan raja yaitu Arya Wiraraja. Dalam runutan sejarahnya salah satu putra Arya Wiraraja yang bernama Mpu Nambi telah membuat benteng besar di Pajarakan sebagai pertahanan ketika Majapahit hendak menyerang Lamajang Tigang Juru.

    Secara pasti, kita tidak mengetahui siapa pendiri dari benteng tersebut. Namun berdasar runutan sejarah dan bukti-bukti arkeologi yang mengatakan bahwa benteng dan pemukimannya dibangun pada sekitar abad ke-14, maka terdapat kesimpulan awal bahwa benteng ini dibangun pada masa Arya Wiraraja dan kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya seperti Mpu Nambi dan seterusnya. Hal ini juga diperkuat oleh survey lapangan MPPM Timur di mana banyak batu bata di kawasan situs ini yang bermotif clurit dan juga terdapat kesamaan istilah ketika menyebut menara pengintai di situs Batu Putih di Sumenep dengan nama “Pengongakan” dan di situ Biting dengan nama “Pengungakan”. Hal ini penting untuk dijelaskan supaya sejarah Indonesia mengetahui bahwasanya kawasan ini bukan merupakan peninggalan kerajaan Majapahit, tetapi menunjuk pada penguasa lokal sebagai pemangku kepentingan yang seungguhnya.

    Dalam kaca mata pelestarian, “Pengupasan” dinding benteng ini sangat penting dilakukan supaya dapat menunjukkan buktinya nyata peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Lumajang kepada masayarakat Lumajang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Perwujudan bukti terhadap situs ini sangat penting dikarenakan selama ini sejarah Indonesia kurang mengenalkan peninggalan-peninggalan kuno di bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru yang meliputi Kabupaten Lumajang pada khususnya dan Kawasan Tapal Kuda pada umunya.

    Kawasan Situs Biting yang menurut kajian akademis merupakan Kawasan Lindung Budaya sendiri cenederung diterlantarkan dengan dibangunnya Perumahan Nasional yang meliputi 15 Hektar areal situs pada tahun 1996. Pada awal tahun 2011 setelah ada advokasi Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPM Timur) pemerintah Kabupaten Lumajang sebenarnya telah membentuk Tim peletarian dan Perlindungan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang dengan SK Bupati 188.45/41/427.12/2011 tanggal 23 Februari 2011 yang kemudian menghasilkan rekomendasi untuk melindungi Situs Biting sebagai Kawasan Cagar Budaya. Disamping itu Kementrian Sekretariat Negara juga telah mengirimkan surat kepada Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Direktorat Peninggalan Purbakala dan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur dengan surat B-335/Kemsetneg/D-3/Ormas-LSM/SR.02/11/2011 pada tanggal 2 Novemver 2011 yang meminta penanganan masalah Situs Biting sebagaimana laporan dari LSM MPPM Timur. Tindak lanjut daripada hal tersebut, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur melalui surat KS.002/0672/BP3JT/KPK/2012 menurunkan Tim Verivikasi untuk melakukan langkah pendataan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang termasuk dengan prioritas Situs Biting.

    Namun dalam perkembangannya, pemerintah Kabupaten Lumajang belum menujukkan langkah-langkah nyata pelestarian kawasan ini. Bahkan yang lebih menyedihkan, pada sekitar 6 bulan lalu, Perumnas Biting indah melakukan pembangunan perumahan kembali dengan merusak benteng barat yang dilindungi berdasarkan surat rekomendasi Tim Pelesatrian dan Pelindungan Cagar Budaya Kabupaten Lumajang. LSM MPPM Timur sebenarnya sudah melayangkan surat protes ini ke Pemerintah Kabupaten Lumajang, namun sampai sekarang belum ada langkah-langkah nyata untuk mencegah perusakan oleh Perumnas Biting tersebut.

    Sebagai kesimpulan, pengupasan dinding benteng ini sangat diperlukan untuk menunjukkan kepada masyarakat Lumajang akan situs bersejarah kebanggaannya dan kepada Pemerintah Kabupaten Lumajang bahwa semua kalangan baik pelajar, mahasiswa, pemuda, akademisi, peneliti maupun berbagai kalangan masyarakat baik di Lumajang maupun di Indonesia menginginkan bahwa Kawasan Situs Biting dalam keadaan darurat untuk dilindungi dan dilestarikan.

    Berdasarkan pertimbangan akademis sesuai dengan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta dan hasil Tim Verivikasi Cagar Budaya BP3 Jawa Timur dimana Situs Biting adalah suatu Situs yang mempunyai ukuran Nasional dan sekarang sedang dalam keadaan darurat karena adanya perusakan massif, maka Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur meminta Pemerintah Pusat dalam hal ini Pemerintah Republik Indonesia untuk menetapkan secara langsung Situs Biting sebagai Kawasan Situs Nasional sebagaimana Kawasan Situs Trowulan, Kawasan Situs Candi Muara jambi dan Kawasan Gunung Padang.

    Sumber : Press Realese MPPM Timur

     

     

     

    Web Designer